Pentingnya Pemeriksaan Laboratorium Pada Awal Kehamilan

Kehamilan merupakan masa kehidupan yang penting. Pada masa itu ibu harus mempersiapkan diri sebaik – baiknya untuk menyambut kelahiran bayinya. Ibu sehat akan melahirkan bayi yang sehat. Saat hamil Anda tentu ingin mengetahui perubahan apa saja yang akan terjadi maupun kondisi janin dalam setiap tahapan kehamilan. Anda juga tentu ingin tahu apakah kehamilan dan janin dalam kondisi normal?

Saat hamil juga banyak terjadi perubahan fisik dan mental. Agar janin yang dikandung sehat, ibu hamil perlu merawat kehamilannya sejak dini dengan menjaga kebersihan, mengkonsumsi makanan yang bergizi, dan memeriksakan kandungan secara teratur ke dokter.

Untuk mengetahui sejak dini risiko yang mungkin muncul dan mengganggu perkembangan janin diperlukan pemeriksaan laboratorium awal kehamilan. Pemeriksaan laboratorium pada awal kehamilan ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya risiko gangguan kesehatan pada ibu hamil yang dapat berakibat buruk pada janin.

Apa saja yang dapat diketahui dari pemeriksaan laboratorium awal kehamilan ?

1. Hematologi Rutin

Pemeriksaan ini dapat mendeteksi terjadinya anemia yang dapat mempengaruhi kondisi fisik ibu hamil dan perkembangan janin. Dapat pula diketahui adanya kelainan sistemik (gangguan hati dan ginjal) yang dapat mempengaruhi bentuk dan fungsi sel darah, adanya penyakit infeksi dan penyakit pendarahan yang menunjukkan kelainan faal hemostatis.

2. Urin Rutin

Bertujuan untuk meperlihatkan tingkat/jumlah gula dan protein dalam urin. Bila ditemukan gula dalam jumlah besar perlu dicurigai adanya diabetes.
Jika ditemukan protein dalam jumlah besar, perlu diwaspadai adanya infeksi pada saluran kemih, penyakit ginjal atau preeclampsia (suatu kondisi yang muncul setelah usia kehamilan 20 minggu, ditandai dengan tekanan darah tinggi dan retensi/penimbunan cairan yang dapat berakibat fatal pada janin dan ibunya).

3. Golongan darah ABO dan Rhesus

Selain sebagai persiapan untuk kepentingan transfusi darah (jika suatu saat dibutuhkan), juga untuk mengetahui kecocokan rhesus.
Jika seorang wanita dengan rhesus negatif hamil dari suami yang mempunyai rhesus positif, dan mengandung anak dengan rhesus positif (ada 50% kemungkinan ini), maka secara alami si ibu akan menghasilkan antibodi yang menyerang darah janinnya, dan menyebabkan sel darah merah janin rusak. Hal ini akan mengakibatkan janin mengalami anemia, kerusakan otak dan jantung, atau akibat fatal lainnya.

4. Glukosa Darah Puasa dan Glukosa Darah 2 Jam PP

Perlu dilakukan dan dipantau selama kehamilan untuk mendeteksi terjadinya diabetes gestasional.
Diabetes gestasional adalah salah satu jenis diabetes yang terjadi hanya pada masa kehamilan. Penyakit ini terjadi pada 1-3 % wanita hamil, dan biasanya mulai muncul pada trimester ke-2 atau sendirinya saa ibu melahirkan. Penyakit ini dapat mengakibatkan keguguran, kerusakan pada otak dan jantung janin, atau berat badan janin berlebih.
Bagi ibu hamil, diabetes gestasional dapat menyebabkan kesulitan pada saat melahirkan (karena bayi berukuran besar) dan meningkatkan risiko terjadinya preeklampsia.

5. HBsAg

Pemeriksaan ini mampu mengidentifikasi keberadaan infeksi hepatitis B. Hal tersebut dilakukan untuk mencegah penularan langsung hepatitis B dari ibu pada janin bayi, atau melalui kontak fisik/luka pada saat melahirkan. Bila diketahui sejak awal, upaya pencegahan agar bayi tidak mengalami gangguan yang berarti bisa dilakukan.

6. TORCH (Toksoplasma, Rubella, Cytomegalovirus, Herpes)

Penyakit tersebut dapat mengakibatkan keguguran, bayi lahir prematur, atau cacat/kelainan pada janin yang dikandung. Infeksi TORCH pada ibu hamil dapat dideteksi melalui pemeriksaan Anti-Toxoplasma IgG & IgM, Anti –Rubella IgG & IgM, Anti-CMV IgG & IgM, dan Anti-HSV2 IgG & IgM.

7. VDRL/RPR

Pemeriksaan ini dilakukan untuk mendeteksi adanya infeksi sifilis. Bila hasilnya positif perlu dikonfirmasi dengan pemeriksaan lanjutan.

Terima kasih sudah membaca artikel Pentingnya Pemeriksaan Laboratorium Pada Awal Kehamilan, Semoga bermanfaat

eXTReMe Tracker