Stop! Sering Membentak Bahaya Bagi Perkembangan Jantung Anak

Anak-anak yang sering sulit untuk dikendalikan terkadang membuat para orang tua marah. Tidak jarang, perkataan bernada tinggi atau bentakan pun dikeluarkan. Anda tanpa sadar akan berteriak sambil marah. Tetapi sebaiknya Anda mengurangi kebiasaan itu. Sebab nada tinggi tak hanya berdampak buruk bagi psikologis, tetapi juga jantung anak.

Sering membentak anak juga menimbulkan efek yang tidak baik pada perkembangan sikapnya. Dengan sering membentak anak, maka kemungkinan untuk anak anda tumbuh menjadi pribadi yang suka membentak juga semakin besar. Ada pepatah yang bilang “Buah tidak jauh dari pohonnya”, ini karena anak merupakan pribadi peniru yang andal. Tentunya Anda tidak ingin anak bersikap demikian. Untuk itu sebaiknya hindari berteriak meskipun Anda sedang marah padanya.

Selain perkembangan sikap, sering membentak anak juga berpengaruh pada jantungnya. Seorang dokter sekaligus pengajar di Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW), Yogyakarta, dr Godeliva Maria Silvia Merry, M.Si mengatakan bahwa Jantung sangat merespons suara-suara yang memiliki tone berbeda.

Menurutnya, denyut nadi seseorang akan berubah-ubah menyesuaikan jenis suara yang didengar. Untuk menjelaskan pengaruh jenis suara terhadap detak jantung, dr Silvia mengambil contoh tiga jenis musik, yakni musik meditasi bertempo lambat, musik pop bertempo sedang, dan musik disko bertempo cepat. Ternyata ketika mendengar musik yang lebih cepat, jantung juga akan berdetak lebih cepat. “Itu adalah salah satu contoh bahwa sebenarnya jantung sangat merespon terhadap suara,” tuturnya.

Sifat jantung yang responsif terhadap suara tersebut berkaitan dengan hubungan antara gaya mengasuh dengan kondisi jantung anak. Cara pengucapan perintah yang berbeda akan menghasilkan efek yang berbeda pula. Jika anak terus menerus dibentak atau diperintah dengan nada tinggi, tutur dr Silvia, maka jantung anak akan berdetak lebih cepat.

Apakah akibatnya jika orangtua kerap membentak anak dengan nada tinggi? Menurut dr Silvia, jika terus-terusan terpapar suara bernada kasar atau tinggi, jantung akan terbiasa berdetak dengan cepat. Alhasil jantung akan cepat ‘exhausted’ alias kelelahan. Efek yang sama juga terjadi pada mereka yang terus-terusan mendengarkan musik berirama cepat.

Menurutnya juga, penelitian mengenai hubungan antara paparan suara terhadap kinerja jantung telah dilakukan di tingkat internasional dan telah terbukti. Sebuah studi di Amerika yang dipublikasikan dalam jurnal Environmental Health Perspectives telah membuktikan kaitan antara paparan suara dengan detak jantung. Menurut studi itu, detak jantung seseorang cenderung meninggi jika mengalami paparan suara yang meningkat. Efek itu tetap ada meskipun tingkat kenyaringan suara hanya di bawah 65 desibel, atau sama nyaringnya dengan suara percakapan biasa atau suara orang tertawa.

Ada beberapa cara yang bisa Anda lakukan untuk memperingatkan anak tanpa harus membentak dan berteriak:

Ajarkan anak bersikap

Jika anak mulai berulah, posisikan diri Anda setinggi anak Anda kemudian lihat matanya. Bicarakan baik-baik pada anak kalau sikapnya tidak baik dan harus diperbaiki. Ajarkan bagaimana seharusnya ia bersikap. Cara ini lebih mengena pada anak dibandingkan Anda berteriak untuk memperingatkannya.

Beri hukuman efektif

Jika cara di atas tidak berhasil dan malah membuat ulah anak semakin menjadi-jadi, mau tidak mau Anda harus memberikannya hukuman. Minta ia duduk di pojok hukuman selama beberapa menit, hingga emosinya dan Anda turun. Kemudian baru bicara baik-baik padanya, jangan lupa untuk mengungkapkan rasa sayang Anda padanya.

Berikan peringatan

Tekankan sampai tiga kali bagaimana seharusnya ia bersikap. Penelitian menunjukkan seseorang akan menanggapi serius sebuah peringatan jika disampaikan minimal tiga kali. Tanyakan juga alasan mengapa ia berulah, dengan begitu Anda bisa mengetahui penyebabnya. Anak pun merasa dihargai dan didengarkan pendapatnya.

Mengalihkan Perhatian

Sebagai orangtua, ada waktunya di mana kita harus melarang anak berbuat sesuatu, sebagai contoh hal yang sederhana ke luar rumah ketika hujan. Kebanyakan keputusan yang diambil orang tua untuk melarang anaknya keluar di saat hujan adalah dengan membentak anak dan melarangnya dengan keras, apakah berhasil cara seperti ini? Jika diperhatikan sang anak bukannya menurut perintah orangtuanya yang terjadi sebaliknya sang anak malah menangis karena dilarang keluar ketika hujan.

Saat menemukan masalah seperti ini cobalah lakukan yang sedikit berbeda yaitu dengan mengalihkan fokus anak dari bermain hujan-hujanan ke sesuatu yang lebih menarik. Sebagai orangtua kita dituntut untuk berfikir lebih kreatif dan mencoba berpikir layaknya anak. Misalnya dengan mencoba bermain kemah-kemahan, jadi ketika sang anak mulai menunjukan tanda ingin keluar ketika hujan langsung ajak mereka bermain kemah-kemahan, awalnya mereka takut karena belum pernah main seperti ini, dan akhirnya mereka pun lupa ingin bermain di luar.

Memang dalam beberapa kasus membentak bisa berhasil namun dengan tanpa sadar kita sebagai orangtua telah menanamkan bahwa jika kita ingin meminta tolong agar orang lain mau menurut dengan kita harus dengan cara membentak.

Dengan mengarahkan pikirannya ke sesuatu yang lebih menarik, maka ada beberapa keuntungan sebagai orangtua, yaitu:

1. tidak perlu buang tenaga untuk membentak anak, belum lagi kalo anak tidak nurut dan menangis maka akan banyak tenaga yang terbuang untuk menenangkannya lagi.

2. bisa membiasakan sang anak untuk berlaku ramah kepada sesama anak lain, orangtua dan lingkungan.

3. bisa mengenal lebih jauh tentang sifat anak, karena banyak saya temukan anak yang sering dibentak orangtuanya mereka punya cara sendiri yaitu dengan bertingkah baik di depan orangtua tapi ketika jauh dari pengawasan orangtua maka perilaku mereka bisa jauh berbeda.

Terima kasih sudah membaca artikel Stop! Sering Membentak Bahaya Bagi Perkembangan Jantung Anak, Semoga bermanfaat

eXTReMe Tracker